Showing posts with label PERJALANAN ROHANI. Show all posts
Showing posts with label PERJALANAN ROHANI. Show all posts

Wednesday, 27 May 2015

REVIEW BUKU CRAZY LOVE


Buku yang membahas betapa dahsyatnya Allah mencintai anda, cinta-Nya tidak main-main, Dia sungguh mengejar anda tanpa lelah.
Buku ini ditulis oleh Francis Chan, seorang pendeta dari gereja Cornerstone, California dan juga pendiri Eternity Bible College. Francis menulis buku ini dengan bahasa yang ringan dan mudah diikuti, tetapi dengan makna dan pemahaman yang dalam, yang mengajak pembaca untuk berefleksi tentang hubungannya selama ini dengan Tuhan. Sesuai namanya, buku ini banyak bercerita tentang cinta, tepatnya cinta yang gila.

Bab pertama dari buku ini berjudul "Berhentilah Berdoa", maksudnya adalah bukan untuk berhenti berdoa selamanya, tetapi hanya untuk sesaat, karena Francis mengatakan generasi saat ini adalah generasi yang cepat berkata-kata. Ia mengajak kita untuk diam dan hening sejenak dan menikmati Allah, melihat betapa hebatnya Allah dalam menciptakan langit dan bumi, menciptakan laba-laba yang mampu membuat jaring 18 meter sejam, menciptakan bunga yang indah, menciptakan nada e minor, dan  hal luar biasa lainnya. Semua menjadi begitu biasa karena kita sudah terlalu sering melihatnya. Francis juga mengajak Allah itu adalah Allah yang Maha Kudus, Maha Kuasa, Maha Tahu, kekal, Maha Adil dan benar. Kemudian Allah kita adalah Allah yang begitu dahsyat seperti yang tertulis pada Wahyu 4 dan Yesaya 6.

Di bab selanjutnya Francis menjelaskan bahwa Allah yang seperti itu mengasihi anda manusia yang terbuat dari debu tanah dengan luar biasa. Kasihnya adalah kasih yang tak terbatas. Dia mengasihi anda apa adanya. "Sebelum aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, aku telah menguduskan engkau, ......." Yeremia 1:5

Bab selanjutnya membahas tentang bagaimana keadaan kebanyakan orang Kristen saat ini, saya serasa ditampar ketika membacanya, dan saya kira keadaan saya saat ini sama seperti itu. Francis mengatakan bahwa kita juga harus jatuh cinta kepada Allah, ketika kita jatuh cinta, maka seluruh hidup kita akan berserah kepada-Nya.

Francis menuliskan, panggian Yesus untuk berkomitmen jelas sekali: Ia menginginkan semuanya atau tidak sama sekali. Mengikut Kristus bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan setengah hati atau sebagai pekerjaan sampingan,

Saya merekomendasikan buku ini, dengan bahasa yang ringan namun cukup menampar saya. Buku ini cukup bagus untuk orang-orang yang mengaku seorang Kristen dari lahir tetapi hidup dalam kedagingan. Selamat membaca.

Monday, 9 February 2015

EKSPOSISI MUSA (4) : MUSA MELAKSANAKAN TUGASNYA

Sumber gambar : http://www.artlevin.com


40 tahun sudah Musa menjalani kesunyiannya di padang gurun tandus, hidup di dalam kesederhanaan, mungkin tujuan hidupnya saat itu hanyalah dapat melihat anak-anaknya bertumbuh dan menjadi dewasa, dan menghabiskan masa tuanya bersama dengan istrinya tercinta. Namun tidak demikan dengan rencana Allah.

Ia tidak dapat membayangkan Allah sedang  mengangkat sebuah alat yang ditolah seperti dirinya, dan menemukan kegunaan di dalamnya. Baginya, gagasan itu sangat bodoh dan sangat menggelikan. Dan kemudian di satu hari yang normal dan biasa, hari di padang gurun, ia berhenti untuk melihat suatu semak yang kusus, dan semuanya tidak akan pernah normal dan biasa lagi bagi dirinya. Tidak ada petunjuk, tidak ada firasat, tidak ada tanda khusus yang memberitahunya tentang kenyataan bahwa Allah sendiri yang akan memecahkan kesunyian hari itu dan hidupnya akan berubah untuk selamanya.


Mungkin kita merasa hidup kita biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial dalam diri kita, kita adalah orang yang terbuang, yang gagal, yang jatuh sangat dalam, dan tidak mungkin lagi ada uluran tangan dari Allah. Ketika kita berpikir seperti itu, ingat lagi lah kisah Musa, dimana seluruh bagian hidupnya berada di bawah kendali Allah. Allah tidak membuangnya, namun mempersiapkannya, dan kemudian Allah memakainya. Kita dilahirkan untuk sebuah tujuan, masalahnya kita tidak mengetahui kapan waktunya. Dan ketika kita gagal atau jatuh dalam dosa, akan ada sebuah uluran tangan yang kuat yang siap menarik kita. Yang terpenting adalah kita percaya, bersabar, dan berdoa agar kita dimampukan untuk dapat melaksanakan tugas yang telah Ia persiapkan sejak lama untuk kita lakukan. Dan jangan terkejut kalau hari yang anda tunggu itu datang secara tiba-tiba. Sama seperti Allah yang memanggil Musa secara tiba-tiba.



ALLAH MENGUTUS MUSA
Ketika Musa menggembalakan kambing domba mertuanya, di gunung Allah, Allah menampakkan diri-Nya dalam nyala api yang keluar dari semak duri. 
Tuhan berfirman :
Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. ....... Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir. Keluaran 3 : 7-10

EKSPOSISI MUSA (3) : 40 TAHUN DITEMPA DI PADANG GURUN



Segala kemegahan yang didapatkan Musa, kini telah sirna, sebuah impian yang mungkin pernah dibayangkan Musa untuk membebaskan saudara-saudara sebangsanya dari tanah Mesir terkikis habis. Istana megah kini diganti dengan rumah yang sederhana, di Midian, sebuah daerah dimana dia akan menghabiskan waktu selama 40 tahun.

Apakah Allah membuang Musa? Tidak Allah tetap menyertainya, Allah sedang mempersiapkannya dari seorang pemimpin yang mengandalkan dirinya menjadi seorang pemimpin yang mengandalkan Allah. Pada masa-masa inilah Musa dididik dan ditempah menjadi seorang pemimpin yang rendah hati.

Belajar untuk Berefleksi dan Taat
Ketika kondisi kita biasa-biasa saja, seringkali kita mengasihi Allah dengan cara “biasa-biasa” saja. Saya ingat ketika saya berada di semester 4-5, saat itu bisa dikatakan saya cukup egois, hidup dengan tidak taat, meskipun setiap pagi saya tetap membaca alkitab dan memberikan waktu teduh. Masa-masa itu cukup banyak waktu yang saya habiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna, hanya untuk memuaskan kedagingan saya, contohnya : menggunakan media sosial berjam-jam, duduk di depan computer streaming youtube untuk hanya sekadar melihat video-video lucu, dan mengerjakan banyak sekali tugas saat jam-jam terakhir (deadliner), yang pastinya tidak dapat memberikan hasil terbaik. Hal tersebut sungguh sangat tidak kudus. Disaat itu saya merasakan Tuhan berbicara melalui hati kecil saya, mengatakan bahwa hal itu tidak benar beny, tetapi saya tetap mengeraskan hati saya dan pura-pura tidak mendengar, dan hal itu terjadi hampir 1.5 tahun.

Suatu hari, sesuatu terjadi berada di luar rencana saya, kejadian yang luar biasa memukul saya. Saya sungguh sedih dan kecewa, hal tersebut sungguh membuat saya jatuh. Namun dimomen itu pula lah saya bisa benar-benar sadar dan bisa  menyerahkan keegoisan saya kepada Allah, dan berefleksi terhadap apa yang selama ini saya telah lakukan. Di situ pula lah saya mau untuk diperbaiki dan mau mencoba untuk mendengarkan Allah dan taat lagi.

Jika kegagalan Anda biasa-biasa saja maka Anda juga hanya akan mendapatkan pelajaran yang biasa-biasa saja. Tetapi jika dasar kejatuhan itu begitu dalam, dan Anda jatuh setinggi empat puluh lantai sampai ke dasar yang paling bawah, saat itulah Anda mulai belajar. Sebenarnya bukan kejatuhan itu sendiri yang menyakitkan, tetapi perhentian yang tiba-tiba di dasar paling bawah tersebut. ~Dikutip dari Buku Musa

Musa mengalami kejatuhan dari lantai keempatpuluh seperti itu. Dari keadaan baik-baik saja menjadi seorang pelarian di tanah Median, tapi justru disitu Allah mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin bagi sebuah bangsa yang besar keluar dari perbudakan di Mesir.


Belajar Untuk Menunggu Waktu Allah

Charles S mengatakan : 
Penempatan waktu adalah sama pentingnya dengan tindakan. Saya pikir di sinilah hikmat mengambil bagian. Pengetahuan memberitahu saya apa yang harus dilakukan; hikmat memberitahu saya kapan melakukannya dan bagaimana melaksanakannya. Semakin lama saya hidup, semakin saya mempercayai kata-kata yang ditulis seorang bijak, "Satu pukulan yang tepat pada waktunya sama berharganya dengan seribu pukulan dengan semangat yang terlalu dini". Allah tidak terbatas dalam kemampuan-Nya membuat sesuatu berhasil, tetapi Ia akan melakukannya menurut waktu-Nya dan bukan sebelumnya.

Kita semua pernah mengalami frustasi yang begitu pekat, merasa seakan-akan surga sedang bergerak dengan gigi satu saat kita butuh waktu yang dipercepat. Di saat-saat yang lebih gelap dalam kehidupan kita, kita mungkin merasa seperti sedang berkata kepada Tuhah, "Hei, ini serius. Tidakkah Engkau bisa menaikkannya lagi, satu atau dua tingkat pada daaftar prioritas-Mu? Tentu saja, masalahnya bukanlah Allah yang terlalu lambat, kitalah yang terlalu cepat. Terlalu cepat untuk kebaikan atau kesombongan kita sendiri.

Musa terlalu kuat. Terlalu terpelajar. Terlalu berbudaya. Terlalu bertalenta. Terlalu superior. Ia sedang meronta-ronta dalam pimpinan Tuhan dan harus belajar bahwa menunggu, menahan dirinya bukanlah suatu tanda kelemahan, mungkin sebaliknya, hal itu merupakan tanda kekuatan.

Menyembunyikan Kesalahan:
ITU HANYA MENUNDA TERBONGKARNYA SAJA

Musa menyembunyikan mayat dari orang Mesir yang dibunuhnya kedalam pasir, tetapi esoknya hal tersebut sudah tersebar luar di Mesir. Keluaran 2:12. Menyembunyikan kesalahan, tidak akan dapat menghapus kesalahan tersebut, seperti yang Musa lakukan. Namun berdasarkan refleksi yang mungkin dia lakukan selama 40 tahun di Midian, dia pasti tidak akan melakukannya lagi. Ia tidak akan menjadi seorang pengecut yang bersembunyi dari kesalahannya sendiri.

Musa seorang tokoh besar di dalam perjanjian lama, begitu juga dengan Adam pernah mengalami hal tersebut, apalagi kita, kita mungkin sering melakukannya, menyembunyikan kesalahan atau sisi gelap kita dan hanya menunjukkan sisi kesempurnaan kita, hal tersebut semata-mata adalah karena kita tidak ingin dianggap rendah oleh orang lain, kita tidak ingin kita kehilangan kharisma kita di depan orang, di depan rekan sepelayanan kita.

Banyak sekali sebenarnya dampak dari ketakutan kita terhadap kelemahan kita, saya baru membaca buku yang cukup baik dan terkenal, yaitu The Gift of Imperfection, dalam buku tersebut dikatakan bahwa manusia menganggap kegagalan atau ketidaksempurnaan adalah suatu yang sangat ditakuti oleh manusia, padahal tidak, ketidaksempurnaan adalah pemberian dari Tuhan agar manusia dengan manusia lainnya bisa saling bersama membangun, berbagi dan menguatkan.

Ketika kita melakukan dosa atau kesalahan, janganlah bersembunyi, karena dengan begitu Anda tidak menghormati Allah, apakah Anda pikir Allah tidak mengetahui semua itu? Akuilah kesalahan, dan mintalah teman atau kakak pembimbing untuk membantu dan mendoakan Anda terhadap masalah tersebut.

Musa menghabiskan waktu selama EMPAT PULUH TAHUN, hingga dipakai Allah untuk membebaskan bangsa Israel, bukan waktu yang lama. Dia berusia 80 tahun untuk melaksanakannya pelayanannya. Tidak ada kata terlalu tua untuk bekerja di ladang Allah, mari berdoa dan mempersiapkan diri untuk melakukan bagian kita masing-masing.

Lanjutkan ke bagian selanjutnya :
Eksposisi Musa (4) : Musa melakukan tugasnya

Saturday, 7 February 2015

EKSPOSISI MUSA (2) : MUSA DIBESARKAN DI MESIR


Sekarang Musa telah dibawa ke dalam istana yang megah, istana kerajaan, hidupnya berubah drastis, kalau diilustrasikan adalah seperti berpindah rumah dari gubuk reot ke istana presiden yang memiliki pelayanan yang lengkap dan tentunya tidak lagi perlu untuk bersembunyi. Di istana tersebut kemungkinan Musa mendapatkan pengajaran-pengajaran dari bangsa Mesir yang mungkin diajari langsung oleh guru-guru besar terkemuka oleh bangsa Mesir. Menjadi anak angkat putri Firaun, Musa juga pastinya mendapat hormat ditengah-tengah bangsa Mesir.


WAKTU DAN CARA YANG TIDAK TEPAT

Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir. Keluaran 2:11-12
Walaupun Musa dibesarkan di Mesir, dia masih memiliki jati diri seorang Ibrani, dia masih mengingat bangsanya, mungkin itulah yang menyebabkan Musa ketika berumur 40 tahun ingin keluar dari istana megahnya dan melihat saudara-saudaranya yang sedang dikenai kerja paksa. Ketika dia keluar, dia menemui seorang Mesir memukul seorang Ibrani, dan kemudian Musa menolong seorang Ibrani tersebut dengan membunuhnya. Menolong sesamanya adalah tindakan yang benar, akan tetapi apakah membunuh itu benar?

Swindoll dalam bukunya menjelaskan kisah ini dengan sungguh baik:

  • Tanpa menyadarinya, Musa memasuki posisi yang rawan, saat berbahaya dalam hidupnya. Ketika saya diyakinkan bahwa Musa tahu dia yang akan mebebaskan bangsa Israel, saya juga percaya ia begitu gugup akan hal ini. Kecemasan. Ketidaksabaran. Dan dalam menyatakan pikiran, ia meluncurkan serangan yang gegabah yang menghasilkan bencana. Berhasrat untuk melakukan kehendak Allah, sangat ingin melakukan perkara-perkara besar bagi Allah, ia memaksa keadaan, yang memimpin kepada kemalangan pribadi
Namun selama itu Allah menunggu Anda untuk mencari Nasihat-Nya. Jika Anda bertindak dengan tidak peka terhadap waktu-Nya, Anda bisa kehilangan senyum kemurahan ilahi. Ia tidak akan memberkati apa yang belum Ia tahbiskan. Anda dapat saja benar-benar merasa bahwa Allah mempunyai sesuatu bagi Anda untuk mengerjakan sesuatu di lahan tertentu. Tetapi jika Anda tidak waspada, jika Anda tidak merendahkan diri Anda setiap hari dihadapan-Nya, mencari wajah-Nya, peka terhadap waktu-Nya, bekerja di bawah pimpinan Roh, Anda dapat mendorong dan menerobos dan memaksa jalan anda sebelum waktunya ke tempat di mana Allah menginginkan Anda berada, namun Anda tidak akan pernah sampai pada waktu-Nya

Musa menoleh ke sini, dan ia menoleh ke sana. Bukankah menarik? Ia tidak melihat ke atas, bukan? Ia melihat pada kedua arah secara horizontal, namun ia mengabaikan arah vertikal sama sekali. Dan apa yang ia lakukan akibat amarah bengisnya? Alkitab mengatakan "disembunyikannya mayatnya dalam pasir".

Tetap saja, ketika Anda bekerja dalam kedagingan, Anda butuh sesuatu untuk menutupinya. Anda harus mengubur motif Anda. Anda harus menyembunyikan suatu hubungan yang sudah Anda buat untuk memanipulasi rencana tersebut. Anda harus menyembunyikan kebohongan. Anda harus menutupi mayat akbibat perbuatan Anda. Ini hanya masalah waktu sebelum kebenaran menangkap Anda. 

Dengan mengabaikan untuk meminta nasihat Allah, mengabaikan untuk mencari waktu Allah, maka Anda bertindak menangani banyak perkara. Dan pada akhirnya, Anda mendapati banyak kotoran di tangan Anda, Anda tertegun dengan sebuah mayat, dengan sebuah sekop di tangan Anda dan sebuah kuburan dangkal di kaki Anda.

Mari kita koreksi bersama lagi bagaimana kita melakukan pelayanan kita, di persekutuan kampus, perksekutuan kerja atau di gereja, kita mungkin benar-benar sangat bersemangat, sampai-sampai di dalam mimpi pun hal itu terus tergambar, atau mungkin kita seorang pemimpin yang begitu luar biasa didalam persekutuan tersebut, pagi, siang dan malam berusaha memikirkan dan fokus terhadap pelayanan. Hal itu tentu sangat luar biasa, saya sungguh ingin seperti itu. Tapi tetaplah berhati-hati, selidiki lagi apakah kita melakukannya hanya karena panggilan kedagingan, hanya sebagai pelampiasan, dan tidak dengan kerendahan hati yang penuh. Mudah-mudahan tidak.



Musa berpikir bahwa ia melakukan hal yang benar, menyelamatkan saudara sebangsanya. Esoknya, ia keluar lagi dari istana megahnya, kemudian ia menemukan lagi dua orang yang sedang berkelahi, namun kali ini yang berkelahi adalah 2 orang ibrani. Berniat untuk mendamaikan mereka, Musa malahan mendapat jawaban yang begitu menyentak dirinya. Orang ibrani tersebut berkata :

“Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang mesir itu?”

Jika anda berada di posisi Musa, apa yang anda rasakan ketika mendapat jawaban seperti itu. Padahal saat itu mungkin Musa menganggap bahwa dirinya adalah seorang pahlawan yang kemarin telah membela seorang Ibrani. Musa yang adalah seorang yang terpandang dan berpendidikan, anak angkat putri Firaun raja Mesir, mendapat jawaban yang sungguh merendahkannya sekaligus menghancurkannya.

Setelah mendengar perkataan yang cukup mengejutkan tadi, larilah Musa dari Mesir, dari hadapan Firaun, karena Musa berpikir bahwa kasus pembunuhan terhadap orang Mesir yang dilakukannya mungkin telah ketahuan kepada Firaun. Ya tepat seperti yang Musa pikirkan, Firaun memang sudah mengetahui kasus tersebut. Firaun berikhtiar untuk membunuh Musa (Keluaran 2:15).

Musa melarikan diri, meninggalkan segala kehormatan, kelayakan, impiannya, meninggalkan istananya yang super megah. Pergi berlari dan akhirnya tiba di tepi sebuah sumur di Midian. Di pinggir mata air sumur yang pasti menyegarkan dirinya setelah lari begitu jauh, sebuah harapan baru untuk hidup, di bawah asuhan Tuhan.

Swindoll menyimpulkan pengalaman itu lebih dalam lagi :
Pengalaman-pengalaman seperti itu kita alamai semua. Kita tergesa-gesa dalam berpikir untuk menyelesaikan semuanya; kita melayangkan sedikit pukulan ke dalam kesia-siaan; kita digoncangkan dengan kekecewaan, dan kita terhuyung-huyung; kita takut pada nafas pertama dari penolakan manusia; kita melarikan diri dari pemandangan, menyembunyikan diri kita dalam penyelsalan. Lalu kita bersembunyi di dalam rahasia Allah dari keangkuhan manusia. Dan di sanalah visi kita menjadi jelas; lumpur-lumpur meluruh dari alur hidup kita, kehidupan diri kita sirna; roh kita meminum sungai Allah yang penuh dengan air; iman kita mulai meraih tangan-Nya, untuk menjadi saluran manifestasi dari kuasa-Nya; dan hingga akhirnya kita muncul menjadi tangan-Nya untuk memimpin sebuah eksodus. 

Lanjutkan membaca ke bagian selanjutnya :
Eksposisi Musa (3) : 40 tahun ditempa di padang gurun 

Sunday, 1 February 2015

EKSPOSISI MUSA (1) : SEORANG PEMBEBAS BANGSA ISRAEL LAHIR

Sumber gambar : http://media.ldscdn.org/

Musa merupakan seorang tokoh besar yang kita kenal melalui Alkitab, karena dia dipakai Allah untuk membawa bangsa Israel, bangsa yang sangat besar, bangsa pilihan Allah, keluar dari perbudakan Mesir menuju tanah yang dijanjikan. Selama 40 tahun perjalanan tersebut, Allah memimpin Musa, dan mengatakan firman-Nya, dan sampai saat ini kitab kejadian, keluaran, imamat, bilangan dan ulangan, dipercaya ditulis oleh Musa. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari kisah Musa, dan masih sangat relevan dengan permasalahan yang dihadapi di zaman ini.

Saya membagi pembahasan ini menjadi 4 artikel agar kita bisa memahaminya dengan mudah
  • Bagian pertama (artikel ini) akan membahas kisah kelahiran Musa
  • Bagian kedua akan membahas 40 tahun yang dihabiskan Musa di Mesir
  • Bagian ketiga akan membahas 40 tahun yang dihabiskan Musa di Midian tanah pelariannya setelah ia membunuh seorang Mesir
  • Bagian terakhir akan membahas 40 tahun kisah hidupnya membawa bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan Allah.
Ya menarik memang, berdasarkan Kisah Para Rasul pasal 7, kisah Musa bisa dibagi menjadi 3 periode 40 tahun, di 40 tahun pertama dia menghabiskan waktunya di Mesir sebagai seorang yang dihormati, hidup di istana yang megah, dia diangkat oleh putri Firaun sebagai anak angkat. 40 tahun kedua bertolak belakang dengan yang pertama, ini adalah masa-masa dimana Musa belajar untuk menjadi seorang pemimpin yang rendah hati yang hanya mengandalkan kekuatan Allah. Dan 40 tahun terakhir adalah masa-masa yang paling berarti, dimana Musa mau taat dan melaksanakan perintah Allah untuk membawa bangsa Israel.

Referensi yang saya gunakan di dalam penulisan topik ini adalah Alkitab dan buku MOSES : A Man of Selfless Dedication oleh Charles R. Swindoll

SEBELUM MUSA LAHIR

Allah menggenapi firman-Nya terhadap Abraham, Ishak dan Yakub, yaitu akan memberkati keturunan mereka hingga seperti debu tanah banyaknya (Kejadian 13:16; 26:4), hal itu bisa kita lihat dari kitab keluaran 1:7 Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka. Hal itu terjadi di tanah mesir, karena sebelumnya Yakub (yang kemudian dinamakan Israel) pergi ke Mesir beserta keluarga dan anaknya yang berjumlah 70 orang setelah terjadinya kelaparan yang sangat berat di seluruh bumi, mereka pindah ke Mesir karena diundang oleh Yusuf yang merupakan anak kandungnya sendiri yang dahulu dibuang oleh saudara-saudaranya, yang kemudian dipakai Allah dalam rencana-Nya sehingga menjadi orang yang berpengaruh di Mesir. Itulah sebab mulanya kenapa bangsa Israel berada di tanah Mesir.

Di Mesir mereka beranak-cucu, karena Allah memberkati mereka sesuai dengan firman-Nya, sehingga jumlah mereka sangat banyak, bahkan Firaun mengatakan bahwa jumlah mereka lebih besar dari jumlah bangsa Mesir, hal ini menimbulkan ketakutan yang sangat besar bagi Firaun, dan mengeluarkan perintah yaitu menyiksa bangsa Israel dengan mengadakan kerja paksa, dan tak hanya itu, tampaknya ketakutan Firaun sudah sangat akut, hingga melakukan hal yang sangat keji, yaitu memerintahkan untuk membunuh anak laki-laki yang baru dilahirkan oleh perempuan Ibrani (bangsa Israel), sungguh dosa yang sangat besar. Dan disinilah kisah Musa dimulai.


KELUAR TAPI SEMBUNYI
KELAHIRAN YANG TIDAK DIINGINKAN

Musa lahir dari pasangan lewi, sebuah suku Israel yang kita ketahui dikuduskan Allah untuk melayani-Nya. Lahir berarti, bayi yang sudah berada di perut selama 270 hari, keluar dan bebas melihat dunia, namun bukannya seperti itu, bayi kecil Musa malahan disembunyikan oleh orang tuanya selama 3 bulan, anda tahu bagaimana rasanya disembunyikan?, ya mungkin ditempatkan di posisi-posisi yang sempit dan beberapa kali harus dimasukkan ke dalam kotak agar suaranya tidak kedengaran keluar, karena memang pada saat itu Firaun memberi perintah untuk membunuh setiap anak laki-laki yang baru dilahirkan. Tampaknya Musa lahir disaat yang tidak tepat, ketika keadaan yang tidak baik, saya mengatakan itu dari sudut pandang seorang manusia tentunya, tapi tidak begitu dengan cara pandang Allah, semuanya berada dibawah kendali Allah, Allah telah memiliki rencana bagi semua orang, bahkan bagi bayi yang lahir pada saat-saat seperti itu. 

Mungkin hikmah yang dapat kita ambil adalah walaupun kita lahir ketika orang-orang sekitar tidak menginginkan kita, atau mungkin orang tua kita sendiri tidak menginginkan kita, di sebuah kondisi yang sangat sulit mungkin brokenhome, kuatlah, karena Allah tetap menyertai kita, karena Allah memiliki rencana atas segala sesuatu yang Dia ciptakan, tak perlu khwatir, lihatlah, bagaimana tangan-Nya sendiri yang akan memimpin kita. Ingatlah firman-Nya :
Bukankah burungg pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi diluar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. ~Matius 10:29-31 

Mari kita lanjutkan, kita mengetahui bahwa perintah raja adalah perintah tertinggi, dan pasti ada hukuman bagi mereka yang melanggarnya, namun ternyata orang tua Musa sungguh berani, mereka takut akan Allah dan memiliki iman, mereka melakukan segala sesuatu yang mereka bisa, agar bayinya bisa selamat, dan memang seperti iman mereka itu hasilnya, bayi kecil Musa berhasil bertahan selama 3 bulan. Kemudian diceritakan bahwa orang tua Musa tidak dapat menyembunyikan Musa lebih lama lagi, karena mungkin tangisan Musa sudah lebih keras dari sebelumnya, atau bisa saja karena Firaun semakin menekan bangsa Israel. Akan tetapi Amran dan Yokhebed orangtua musa tidak menyerah, mereka berusaha agar bayi ini tetap selamat. Musa bukanlah anak yang pertama sehingga orang tua mereka mati-matian menyembunyikan Musa, sesungguhnya Musa sudah memiliki seorang kakak dan seorang abang yang bernama Harun, akan tetapi walaupun Yokhebed ibunya sudah memiliki 2 orang anak, dia tetap berusaha untuk menyelamatkan Musa.

Swindoll dalam bukunya, memberikan sebuah penjelasan yang menarik, dia mengatakan bahwa Yokhebed memiliki iman dan perencanaan, berbeda sekali dengan kehidupan orang percaya pada saat ini yang hanya bertumpu pada salah satunya, Yokhebed tentu sudah berpikir dan merencakan dengan sangat baik bagaimana bayi Musa agar dapat selamat, sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk meletakkan musa didalam peti dan menarunya ditepi sungai Nil, yang kemudian nantinya akan menjadi tempat mandi puteri Firaun. Yokhebed mempertimbangkan kapan waktu putri Firaun mandi di sungai itu, dan berapa lama, kapan dia harus meletakkan bayi itu sebelum para pengawal Firaun datang untuk mengawal puteri Firaun mandi. Dan tak hanya itu, dia bekoordinasi dengan anaknya, kakak Musa untuk mengawasi peti Musa dari kejauhan, untuk memastikan semuanya berada seperti rencana. Sehingga pada akhirnya, iman mereka membawa buah, puteri Firaun menemukan Musa dan pada akhirnya memungut dia dan mengangkatnya menjadi anaknya, dan disinilah sebenarnya nama "Musa" diberikan, yaitu oleh puteri Firaun sendiri, yang berarti "Karena aku telah menariknya dari air".

Kita sebagai orang percaya, juga seharusnya menggunakan pikiran dan sumber daya yang kita miliki ketika kita ingin mencapai sesuatu, yang pasti setelah berdoa dan memiliki iman, banyak sekali orang-orang Kristen saat ini yang hidup didalam sukacita yang kosong, yang hanya berdoa tanpa berusaha. Dalam kesempatan ini saya juga ingin mensharingkan sesuatu yang saya dapatkan dari buku Thinking karya John Piper, dia mengatakan : 
Itu sebabnya, alasan utama Allah menganugerahi kita pikiran adalah agar kita boleh mencari dan menemukan segenap alsan yang ada, untuk mengasihi Dia di dalam segala sesuatu dan di atas segala sesuatu, dan juga untuk melayani sesama. Berpikir merupakan sarana mutlak dalam perjalanan mencapai hasrat akan Allah. Berpikir bukanlah suatu tujuan, tak satupun selain Allah sendiri yang pada akhirnya, layak menjadi tujuan
Banyak lagi hal yang dapat kita bahas mengenai Yokhebed ibu Musa, tapi mari kita fokus kepada Musa.

Lanjutkan membaca ke bagian selanjutnya.
Eksposisi Musa (2) :  Musa dibesarkan di Mesir