Wednesday, 3 June 2015

Masih mau mengeluh? (2)

Sebelumnya saya telah menulis artikel "sadar akan Procrastination" yang membahas tentang betapa buruknya ketika kita menunda untuk mengerjakan sesuatu yang penting. Namun untuk mengubah sebuah kebiasaan sangatlah sulit, tidak bisa instan. Ada sebuah sub bab yang ingin saya bagikan dari sebuah buku yang berjudul "Take the Stairs" karya Rory Vaden yang merupakan salah satu buku favorit saya sampai saat ini, yang berhasil membantu saya untuk mengubah kebiasaan saya dalam hal procrastination. Saya harap dapat membantu.

Kita tahu bahwa hidup ini adalah pilihan. Menunda sesuatu atau tidak disiplin itu juga merupakan salah satu pilihan yang kita ambil. Nah, kenapa kita mau memilih sesuatu yang bodoh?. Ya seperti yang kita bahas sebelumnya kalau terkadang perasaan atau emosi itu jauh lebih hebat dari logika dan sisi analitis kita, sehingga kita lebih cenderung memilih pilihan-pilihan yang membuat kita nyaman yang kebanyakan adalah pilihan yang salah. Dan jujur aja lah, hidup ini ga seperti kayak di film bung, happy all the time,  terkadang ada sesuatu yang sangat sulit untuk dijalani, ada beberapa hal yang menguras pikiran dan tenaga. Contohnya saja mungkin, mengerjakan tugas akhir praktikum instalasi, beradaptasi dengan dosen pembimbing skripsi, kondisi finansial yang tidak membaik, cinta yang bertepuk sebelah kaki, nilai akademis yang nyungsep begitu dalam, atau pengalaman-pengalaman pahit di masa yang lalu. Hal tersebut semakin mempersulit kita untuk memilih pilihan yang benar. Atau terkadang kita dapat memilih pilihan yang benar namun sambil dibarengin dengan gerutu, caci maki, atau rasa keterpaksaan. Dan tetap saja segala sesuatu yang dikerjakan dengan gerutu tidak akan berjalan dengan baik.

Saya akan membagikan bagian sub bab yang saya sebutkan diatas dengan gaya menulis saya. Seperti ini, seorang motivator di sebuah acara mengambil sebuah tali yang panjangnya 8 meter, tali yang sangat panjang. Katakan saja hidup manusia rata-rata saat ini 80 tahun, berarti ibaratkan tiap 10 cm dari  tali itu mewakili 1 tahun hidup kita di dunia nyata. Ini permisalan aja lo ya, kita semua ingin memiliki umur yang lebih panjang.

Kita kuliah selama 4 tahun (mohon maaf buat sesepuh yang lulus diatas 4 tahun, lol), jika waktu tidur, makan dan istirahat kita dikeluarkan dari 4 tahun itu, waktu yang sebenarnya dihabiskan di kampus adalah sekitar 14 cm dari 8 meter tali tersebut.


8 meter itu sangatlah panjang jika dibandingkan dengan ukuran 14 cm, perbandingannya kira-kira seperti gambar yang telah saya buat diatas. Pilihan-pilihan yang anda buat pada rentang 14 cm itu sungguh mempengaruhi sisa kehidupan anda di masa yang akan datang. Ketika anda bisa membuat keputusan-keputusan yang benar, maka anda akan menikmati hasilnya selama 60 tahun ke depan.

Mungkin ada hari-hari yang begitu berat selama hidup kita di kuliah, seperti kasus yang sudah saya jabarkan diatas contohnya, atau terlalu berat bagi kita untuk memperhatikan dosen yang mengajar 3 sks di kampus, atau mungkin belajar mengerjakan tugas selama 2 jam dalam sehari.  Tetapi ketauhilah bahwa momen-momen sulit seperti itu bahkan tidak dapat terlihat di ilustrasi tali kehidupan yang kita buat tadi, 1 hari dalam tali tersebut adalah sekitar 0,273 mm. 1 jam tentunya akan sangat kecil lagi. Apakah anda bisa melihat perbandingan antara 8 meter dengan 0.273 mm?

Dengan perpektif yang sempit, setiap hari, rasa frustasi atau kekecewaan yang kita alami seakan begitu besar, dan hidup ini serasa sangat berat untuk dijalani. Namun ketika kita melihat kehidupan ini dari sudut pandang yang luas, sudut pandang 8 meter, permasalahan atau tantangan yang kita alami hari ini itu bahkan seperti tidak terlihat, tidak ada.

Seberapa luas perspektif kita melihat kehidupan ini? Bagaimana lagi jika kita melihatnya dari sudut pandang kekekalan yang tak terhingga, apakah sulitnya hidup selama 80 tahun ini berarti?

Jika kita sudah bisa melihat bahwa ada masa depan yang akan kita tempuh, kita akan berusaha keras untuk menjalani setiap hari kita dengan sebaik-baiknya.

Rory Vaden menuliskan seperti ini
A challenge in respect to today is a big problem. A challenge in respect to our life span is a small problem. A challenge in respect to eternity is no problem 
Dengan sudut pandang yang luas, kita dimampukan untuk mengambil keputusan yang lebih baik. Hal tersebut memberikan kita kekuatan untuk menahan pengorbanan jangka pendek yang kita ambil. Kita diyakinkan bahwa itu semua akan terbayar dengan masa depan yang lebih baik dan tidak sebanding dengan pengorbanan yang kita lakukan.

Nah bagaimana, masih mau mengeluh? Masih tetap memilih atau memutuskan dengan perasaan dan emosi sesaat? Begitu juga dengan pertanyaan, masih terlalu berat move on dari procrastination?
Apakah memang begitu berat untuk tidak mengurangi menggunakan media sosial atau menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna selama kita kuliah. Mari buat pilihan yang bijak. Masa depan kita menunggu.

Wednesday, 27 May 2015

REVIEW BUKU CRAZY LOVE


Buku yang membahas betapa dahsyatnya Allah mencintai anda, cinta-Nya tidak main-main, Dia sungguh mengejar anda tanpa lelah.
Buku ini ditulis oleh Francis Chan, seorang pendeta dari gereja Cornerstone, California dan juga pendiri Eternity Bible College. Francis menulis buku ini dengan bahasa yang ringan dan mudah diikuti, tetapi dengan makna dan pemahaman yang dalam, yang mengajak pembaca untuk berefleksi tentang hubungannya selama ini dengan Tuhan. Sesuai namanya, buku ini banyak bercerita tentang cinta, tepatnya cinta yang gila.

Bab pertama dari buku ini berjudul "Berhentilah Berdoa", maksudnya adalah bukan untuk berhenti berdoa selamanya, tetapi hanya untuk sesaat, karena Francis mengatakan generasi saat ini adalah generasi yang cepat berkata-kata. Ia mengajak kita untuk diam dan hening sejenak dan menikmati Allah, melihat betapa hebatnya Allah dalam menciptakan langit dan bumi, menciptakan laba-laba yang mampu membuat jaring 18 meter sejam, menciptakan bunga yang indah, menciptakan nada e minor, dan  hal luar biasa lainnya. Semua menjadi begitu biasa karena kita sudah terlalu sering melihatnya. Francis juga mengajak Allah itu adalah Allah yang Maha Kudus, Maha Kuasa, Maha Tahu, kekal, Maha Adil dan benar. Kemudian Allah kita adalah Allah yang begitu dahsyat seperti yang tertulis pada Wahyu 4 dan Yesaya 6.

Di bab selanjutnya Francis menjelaskan bahwa Allah yang seperti itu mengasihi anda manusia yang terbuat dari debu tanah dengan luar biasa. Kasihnya adalah kasih yang tak terbatas. Dia mengasihi anda apa adanya. "Sebelum aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, aku telah menguduskan engkau, ......." Yeremia 1:5

Bab selanjutnya membahas tentang bagaimana keadaan kebanyakan orang Kristen saat ini, saya serasa ditampar ketika membacanya, dan saya kira keadaan saya saat ini sama seperti itu. Francis mengatakan bahwa kita juga harus jatuh cinta kepada Allah, ketika kita jatuh cinta, maka seluruh hidup kita akan berserah kepada-Nya.

Francis menuliskan, panggian Yesus untuk berkomitmen jelas sekali: Ia menginginkan semuanya atau tidak sama sekali. Mengikut Kristus bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan setengah hati atau sebagai pekerjaan sampingan,

Saya merekomendasikan buku ini, dengan bahasa yang ringan namun cukup menampar saya. Buku ini cukup bagus untuk orang-orang yang mengaku seorang Kristen dari lahir tetapi hidup dalam kedagingan. Selamat membaca.

Thursday, 21 May 2015

Fungsi Numel pada Matlab

Numel merupakan sebuah fungsi untuk menghitung banyaknya elemen pada sebuah array

SYNTAX
n=numel(A)
dimana A merupakan sebuah array

CONTOH
A=[3, 4, 0, 2]  inisiasi sebuah array bernama A yang memiliki 4 elemen.
n=numel(A)
n=4  hasil yang diperoleh

matriks=['a';'h']
n=numel(matriks)
n=2


Tuesday, 19 May 2015

SADAR AKAN PROCRASTINATION (1)

Sumber gambar : http://www.intentsocial.com/
We tell ourselves we are busy, but in fact, we are spending hours surfing online, watching reruns, or creating "make work" for ourselves, while the real work goes ignored.
Hei, pasti kamu memiliki hal penting yang harus dikerjakan saat ini, mengerjakan tugas kuliah, membuat laporan praktikum, membaca paper, belajar untuk persiapan UAS, atau mulai mengerjakan skripsi yang udah lama gak tersentuh, nah lantas, mengapa sekarang kamu masih membaca artikel ini?. Ya udah jangan tutup tab browser mu untuk saat ini, selesaikan membaca artikel yang saya tulis ini dulu ya, jangan tergesa-gesa, santai dan jangan hanya membaca tulisan bercetak tebal. Baca dengan kritis.

Udah pernah dengar kata Procrastination?, procrastination adalah menunda sesuatu yang harus dilakukan, karena kamu sedang gak mau melakukannya, sedang gak mood, sedang gak termotivasi. Contohnya ya seperti diatas, dimana kamu kita menunda untuk mengerjakan tugas-tugas kita dengan mengerjakan sesuatu yang sebenarnya gak penting, namun terasa penting, atau "dipentingkan", sembari menunggu hati dan jiwa ini termotivasi dengan sendirinya.

Apakah kamu pernah melakukannya?, wah sama, aku juga, jangan-jangan kita jodoh. Lupakan. Nah, yang mau saya katakan adalah, anda tidak sendiri, saya dan hampir semua dari teman-teman saya juga melakukan hal tersebut, seorang procrastinator. Dan bukan hanya di Indonesia, itu juga terjadi di luar negeri, Trust me, i did so much researches about this, because i am expert in procrastinating. Deadliner merupakan salah satu contoh real dari procrastination. Saya sendiri sebagai seorang anak teknik mengakui kalau saya seorang deadliner, dan bergaul dengan orang-orang dengan jenis yang sama, jenis deadliner maksudnya. Ketika h-1 pengumpulan tugas besar misalnya, maka pada pukul 02:00 paginya, akan banyak sekali titik-titik warna hijau berderet di sebelah kanan halaman facebook saya, ya mereka pastinya teman-teman kampus saya yang baru mengerjakan tugas. Beberapa akan ngechat "Masih bangun aja ben? sama, semangat!" atau ada juga yang ngechat seperti ini "Bro, tugansya apa sih? dikumpul besok ya?". (Ga ngerti lagi balasnya mau gimana)
Dan satu per satu status seperti dibawah ini akan memenuhi timeline di Line.

Proud to be a deadliner

Mengerjakan sesuatu menjelang deadline itu sesuatu banget, bisa berpikir lebih cepat

14 jam tanpa tidur bro!!

Minum kopi 3 gelas, sambil dengarin musik dubstep volume full demi tugas ini

Procrastinator? No, I jus wait until the last second to do my work because I will be older, therefore wiser.

Pernah lihat status-status sejenis seperti diatas? kalau pernah berarti kita udah temenan di line, karena itu semua status-status yang pernah saya tulis. 

Mengapa kita menjadi seorang Procrastinator, karena lingkungan mendukung kita dengan luar biasa, karena teman-teman kita juga seperti itu, itu semua sudah menjadi hal yang wajar. Tetapi penyebab utamanya bukanlah lingkungan, tetapi diri sendiri. Nanti kita akan coba bahas bersama. Tapi sebelum itu coba lihat video ini, biar kamu percaya kalau kamu gak sendiri. Tonton sampai habis ya.



Sebelumnya, bersabarlah sejenak untuk membaca sedikit mengenai kehidupan saya. Seperti yang saya sebutkan di awal, saya merupakan seorang procrastinator professional. Saya pernah beberapa kali sering setiap hari menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop secara tidak sadar, sebenarnya saya memiliki tugas yang harus diselesaikan, tetapi sebelum itu seperti biasanya saya mau berselancar di dunia maya beberapa menit sebelum mulai mengerjakan tugas, salah satu yang saya lakukan adalah melaksanakan pekerjaan sosial, yaitu memperhatikan kehidupan teman-teman saya melalui media sosial. Atau secara mendadak tertarik terhadap sesuatu hal yang baru terpikirkan di saat-saat seperti ini, contohnya ingin menjadi seorang photographer, oleh sebab itu harus mencari harga kamera, mencari kelebihan dan kekurangan kamera tersebut, melihat tutorial menggunakan kamera di google. Atau ketika bosan dengan google, pindah ke youtube, untuk melihat video prank gokil, fail compilation video, running man funny compilation, product unboxing, how to do bla bla bla, atau  karokean di depan youtube dengan ratusan cover lagu yang tersedia. Atau kalau sudah kehabisan bahan, kurang kerjaan membaca satu per satu komen di youtube. Oh ya saya lupa, yang menjadi favorite saya adalah nonton ulang film di laptop yang sudah pernah di tonton puluhan kali.

Kemudian tersadar kalau udah pukul 4 pagi, dan akan muncul suara-suara penghakiman atas diri sendiri seperti : "You are so stupid beny, 10 hours doing useless thing?", "Are you insane?", "Udah tahun keempat masih aja kayak gini?", "Tugasmu masih belum kamu kerjakan" dan akan muncul perasaan bersalah yang amat dalam, dan kemudian berjanji untuk berubah. Berkomitmen untuk berubah. Dan meyakinkan diri kalau ini hari terakhir dan besok akan berubah. Dan seperti yang anda tahu, saya berbohong, hal itu masih berlanjut, procrastination still my last name.


DAMPAK PROCRASTINATION
Procrastination itu seperti penyakit kangker yang tidak terlihat di awal, namun terus bekerja menggerogoti sampai semuanya habis, dan pada akhirnya kita menanggung rasa sakit yang begitu dahsyat. Sebegitu parahnya kah?

Dosen favorit anda memberi anda tugas dan akan dikumpul minggu depan, karena anda seorang procrastinator sejati, anda tidak langsung mengerjakannya. Anda mengisi hari-hari anda seperti biasa dengan melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Kemudian dosen-dosen anda lainnya juga memberikan tugas-tugas baru. Tak terasa sampailah h-3 hari pengumpulan tugas tersebut, anda mulai khawatir dan berencana mengerjakannya sore ini. Masalahnya teman anda mengajak anda untuk kumpul makan bareng, sebenarnya bisa ditolak, namun berhubung cewek yang anda sukai ikut makan disana, alhasil anda mengorbankan tugas anda dan memilih untuk ikut makan bersama teman-teman anda tersebut (lol).

Oke tinggal 2 hari, anda galau mau mengerjakan yang mana, mau mengerjakan tugas atau membuat laporan praktikum dulu, soalnya laporan praktikum juga dikumpul di hari yang sama. Dan tambah lagi pada hari itu anda dapat informasi kalau ada beasiswa dan deadlinenya besok, beasiswa ini padahal udah anda tunggu lama kedatangannya, tapi karena ga ada waktu lagi untuk ngurus berkas2nya karena anda saat itu mulai menyicil laporan praktikum, dan pupus sudah untuk menerima beasiswa tahun ini. H-1 pengumpulan tugas, sepulang kuliah anda mulai menyalakan laptop, namun seperti biasa, sebelum mengerjakan tugas, anda perlu penetrasi menghibur diri dengan nonton video youtube sembari menunggu mood datang. Wah gak nyadar udah 3 jam terlewat. Karena panik, ya biasanya otak anda sangat mudah terdistraksi, dan akhirnya buka-buka medsos dulu. Dan motivasi akhirnya datang juga, ngelihat jam, udah pukul 7 malam (siapa ini yang mengeluarkan jutsu, sehingga waktu berjalan sangat cepat). Mata udah ngantuk dan memerah.

Anda minum kopi sembari mulai mendownload materi kuliah anda dari papirus (web akademik) untuk mengerjakan tugas tersebut. Selang beberapa jam, nambah kopi lagi yuk, udah habis yang tadi. Sudah jam 1 pagi, disini anda belum menulis sedikitpun, baru membaca referensi biar mengerti dulu konsep dasarnya, kalau sudah mengerti kan gampang nanti nulisnya. Mata sudah berat banget, beli kratingdaeng dulu pagi-pagi subuh ke indom*ret terdekat. Dan kemudian anda mulai mengejar menulis tugas anda h-3 jam. Tetapi akhirnya tugas anda selesai juga.

Apa bedanya kalau gitu sama yang gak procrastinator? Wah jelas beda dong.

  • Kamu baru saja kehilangan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa tahun ini. Kamu ga jadi untuk membeli sepatu baru seperti yang kamu rencanakan sebelumnya.
  • Jika dibandingkan dengan teman anda yang mengerjakan tugas jauh-jauh hari, apakah anda yakin tugas anda lebih baik?. 
  • kamu baru saja meminum 2 gelas kopi, 1 kaleng kratingdaeng, tidak tidur semalaman, pergi pagi-pagi subuh ke luar kamar kos. Selamat anda baru saja menyiksa diri anda. Hal tersebut sebenarnya berdampak sangat besar bagi kesehatan anda, tapi karena kita masih muda, ya jadinya ga terlalu kerasa, tapi percayalah itu sangat buruk bung.
  • Kamu tidak akan konsentrasi mengikuti seluruh kuliah pada hari itu, dan hari itu seakan menjadi hari yang cukup panjang. Belum lagi anda masih memiliki tugas untuk mengerjakan laporan praktikum yang dikumpul siang ini. 
  • Ternyata dosen anda sedang mencari kandidat yang akan mendapatkan beasiswa melanjutkan S2 keluar negeri. Karena belum kenal sama mahasiswanya, makanya ia menjadikan tugas tadi sebagai tolak ukur, karena anda tidak maksimal dalam mengerjakan tugas, sayang sekali, anda tidak mendapat kesempatan untuk sekolah ke luar negeri, dan gantinya teman anda yang berangkat.
Poin diatas hanyalah dampak jangka pendek dari procrastination, dan itupun sudah sangat merugikan. Bagaimana dengan dampak jangka panjangnya? Faktor kesejahteraan, karir dan kesehatan anda di masa yang akan datang sungguh dipengaruhi oleh hal ini.

Problems that are procrastinated on are only amplified, and we are the ones who pay the price.
Itu semua tergantung keputusan kita, hidup ini adalah pilihan, Apakah aku harus ikut kumpul bareng dengan temanku dan si doi atau mulai mengerjakan tugas ini? Apakah aku mulai bergerak mengerjakan tugas setelah tugas diberikan atau nanti saja? Apakah ini atau itu? Semuanya tergantung plihan. Rory Vaden dalam bukunya mengatakan, dalam memutuskan sesuatu pasti ada 2 kriteria yang berlawanan yang mempengaruhi keputusan kita. Salah satu bagian otak kita memproses emosi dan impuls, meyakinkan kita untuk memilih berdasarkan kenyamanan yang kita rasakan. Bagian lainnya adalah bagian analitis, yang membantu kita untuk bersikap rasional dan logis. Kedua hal ini berlawanan. Secara logis, sebenarnya kita tahu apa yang kita harus lakukan, tapi secara perasaan, kita mengetahui apa yang ingin kita lakukan. Kecenderungan kita adalah memilih berdasarkan perasan dan emosi. Sehingga logika dan rasionalitas tersingkirkan. Itulah mengapa kalau kita perhatikan bersama, kita bisa menghabiskan berjam-jam di depan internet tanpa sadar. Karena logika kita kalah jauh dari emosi dan perasaan.

Keputusan kita yang hanya befokus pada kenikmatan jangka pendek sering sekali menipu dan yang pada akhirnya akan memaksa kita untuk mengerjakan usaha yang jauh lebih besar.
What seems easy in the short term really isn't easy in the long term
Sungguh besar dampak yang ditimbulkan oleh kata "Procrastination". Dan biasanya akan kelihatan di masa-masa akhir. Orang yang dahulunya memaksa dirinya untuk tidak mengikuti kenyamanan atau perasaan nikmat sesaat akan mendapatkan hasil yang jauh lebih besar dari orang-orang procrastinator. Sebuah kata bijak yang sungguh tajam untuk hal ini adalah Winning is a habit, unfortunately, so is lossing. 


Ayo kita lihat lagi dari scope yang lebih luas, dari beberapa sumber terpecaya, saya mendapatkan data statistik yang menunjukkan bahwa 26,23% masyarakat Indonesia mengalami obesitas, lebih kurang 300.000 pasangan bercerai setiap tahunnya, 7.4 juta orang menganggur pada agustus 2013 dan semakin meningkat, dan 2 jam 45 menit adalah rata-rata waktu yang dihabiskan penduduk Indonesia menggunakan media sosial. Indonesia berada di urutan 102 dari daftar negara-negara dengan indikator GDP.

Siapa yang menyumbang buruknya data statistik diatas, siapa lagi kalau gak kita. Itu semua karena kita masih belum bisa move on dari Procrastination. Wah sungguh mengerikan.

Lantas bagaimana caranya untuk bisa move on dari procrastination? Sabar dulu, yang penting kita sadar dulu kalau procrastination, deadliners itu ga baik. Bagaimana caranya untuk berubah, kita pelajari bersama di artikel selanjutnya. :D

Part 2 of 10 klik disini

Tuesday, 12 May 2015

UPP INTERNSHIP CHEVRON


Halo, kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya saat mengikuti seleksi UPP Chevron Pasific Indonesia. Udah tau kan Chevron? Chevron adalah salah satu perusahaan energi terintegrasi terdepan di dunia. Chevron memiliki cabang di Indonesia yang bernama Chevron Pasific Indonesia atau disingkat dengan CPI, yang saat ini memproduksi 40% dari total produksi minyak nasional. Nah udah tau lah ya gimana keadaan perusahaan minyak dan gas, dan bayangkan kalian magang disana selama 3 bulan. It is amazing!

UPP itu singkatan dari University Partnership Program, yang saya ketahui UPP terdiri dari banyak program yang bertujuan untuk membantu universitas menjalankan misinya, salah satu program dari UPP adalah Internship atau magang di Chevron. Saya sebelumnya sudah pernah melakukan Kerja Praktik (berbeda dengan magang) di  CPI bulan februari 2015 yang lalu, enak banget bro KP di sana. Akodomasi, transportasi, makan, fasilitas semuanya ditanggung oleh CPI. Kata fasilitas saya kasih huruf tebal, untuk menekankan bahwa fasilitas disana itu lengkap banget, mulai dari billiard, swimming pool, fitness center, bowling, dll.  Kalau mau tau lebih jauh atmosphere kerja di CPI, bisa buka link ini gan.



Nah kalau KP di CPI itu cuma dikasih waktu 1 bulan, namun UPP Internship (magang) pelaksanaannya selama 3 bulan. Selain itu ketika ada business need atau lagi membutuhkan karyawan baru, yang menjadi sasaran mereka pertama adalah orang-orang yang udah pernah magang disana, alasannya adalah karena mahasiswa yang sudah pernah magang sudah tau mengenai kondisi kerja di CPI. Tapi tahun 2015 sepertinya CPI sedang freeze soal recruitment, karena harga minyak yang sedang turun.

Apa aja sih tes yang harus dilalui di UPP Internship?

Seleksi pertama adalah administrasi, peserta yang mendaftar harus memiliki IPK diatas 3, dari pengalaman saya, semua yang memiliki IPK diatas 3 boleh ikut tahap selanjutnya. Tapi ada yang harus di perhatikan di tahap ini. Ketika mendaftar program UPP Internship di ECC (untuk mahasiswa UGM), peserta diminta untuk mengisi data diri di excel, nah disana ditanyakan rencana lulus. Di UGM periode wisudanya adalah februari, mei, agustus dan november. Sebagian dari teman saya yang semester 8 menuliskan lulus agustus 2015, dan banyak juga yang menuliskan november 2015. Dan ketika pengumuman keluar, ada banyak sekali mahasiswa yang tidak boleh lanjut ke tahap selanjutnya, termasuk saya, padahal IPK kami semua diatas 3. Sedangkan teman saya yang IPK nya 3.04 diluluskan. Kami sempat bingung, apa yang menjadi indikatornya. Usut punya usut, ternyata peserta yang berencana lulus agustus 2015 tidak diperbolehkan ikut program ini. Karena program magang ini berlangsung mulai juli sampai september. Jadi jika anda mau ikut program ini, maka anda harus mau lulus lebih lama.

Tapi saya dari dulu udah pengen banget ikut program ini, soalnya kemarin juga udah sempat KP disana, dan cocok banget dengan saya kondisi kerjanya. Semangat saya ga padam, di hari-H tes Aptitude, saya tetap datang bersama teman saya. Kami jumpai Ibu yang dari CPI, kami jelaskan kalau kami bersedia untuk lulus bulan november 2015, ibunya berpikir, sempat menelpon seseorang, dan akhirnya mengizinkan kami untuk ikut, tapi harus menyerahkan transkrip. Wah berketepatan saya lagi ga bawa transkrip, langsung ngacir deh ke kos. Saya kasih transkripnya dan akhirnya saya boleh masuk.

Jumlah peserta yang ikut aptitude tes saat itu adalah 180 orang, yang dibagi menjadi 2 batch. Saat melihat soal, saya cukup terkejut, karena jenis soalnya berbeda dengan yang tahun lalu. Ternyata CPI sudah mengganti perusahaan yang mengadakan aptitude test nya. FYI yang melakukan seleksinya bukan CPI, tapi mereka menyewa perusahaan lain. Tesnya sama seperti aptitude tes pada umumnya . Kalau mau latihan, banyak kok di internet, googling aja "Aptitude Test". Gampang kok, tipsnya disini adalah Bekerjalah secepat mungkin. Beneran , saya udah 2 kali ikut aptitude test CPI, dan puji Tuhan selalu lulus. Jadi tipekal soalnya itu adalah soal-soal yang bisa dikerjakan oleh peserta, namun membutuhkan waktu, jadi kita harus bekerja dengan sangat cepat. Dan kemarin saya tidak bisa menjawab banyak soal, dan setelah selesai test, saya langsung bilang ke teman-teman saya. "Fix aku ga lulus bro".

Seminggu setelah itu, hp saya ditelpon nomor yg ga saya kenal, kayaknya dari kantor, namun ga saya angkat karena saya lagi kuliah, dan setelah balik cek email, puji Tuhan, saya lolos dan bisa melaju ke tahap selanjutnya.



Wah Tuhan emang bekerja dengan cara-Nya yang unik gan. Saya ga nyangka bisa lulus, soalnya saya emang ga ada persiapan aptitude test sebelumnya, karena sibuk rapat, sampai malam. Tapi ya seperti itu, mungkin Tuhan berkehendak saya lulus di tahap ini. Dan seperti tahun lalu, Interview I'm Coming!!. Tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun lalu itu saya latihan bahasa inggris di depan kaca, googling di internet "Tips and trick for interview", beli baju baru biar kelihatan rapi, dll. Kalau tahun ini, latihan aja ga sempat gan, soalnya saya mengambil pelayanan di Persekutuan Mahasiswa Kristiani Teknik UGM, dan pada saat itu masa-masa sibuknya, tiap hari rapat, bahkan dalam satu hari pernah 5 kali rapat. Tapi saya tetap bersuka cita melaksanakannya gan, karena saya hidup bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk Tuhan. Kok jadi curcol ya?



Kemudian saya langsung menuju wisma MM UGM, lokasi interviewnya disana, di lantai 5, tahun lalu di lantai 7. Langsung deh masuk ruangan, wah jumpa lagi sama bapak dan ibu yang sama dengan yang tahun lalu. Ada 2 orang gan, mewakili user dan HR dari Facility Engineering Duri,  HRnya seorang ibu yang ramah dan cantik. Dan mulai deh tanya-tanya, awalnya disambut pakai bahasa Indonesia, tapi ketika mulai interviewnya langsung pakai bahasa inggris. Jujur bro bahasa inggris saya hancur banget, dan kalau saya udah berada di titik limit saya, saya jawab aja pakai bahasa Indonesia. Campur campur kayak cendol deh. Tapi saya tetap santai  menjawabnya, ga gerogian kayak tahun lalu. Karena sebelum interview saya sudah berserah sama Tuhan bro. Panjang banget interviewnya, 45 menit. Saya tanya teman saya, ada yang cuma 30 menit. Kalau mau tau lebih lengkap soal interview, komen aja bro.

Dan amazing grace, minggu depannya, saya ditelpon teman saya untuk ngecek email. wah dag dig dug gan, saya buka hotmail saya, dan jreeeng, ada email dari Chevron, hahahahaha. Saya dipersilahkan untuk boleh ikut Medical Check-Up. Tuhan Yesus baik banget bro. 

Medical check-up dilakukan di prodia, cukup banyak yang diperiksa, mulai dari ronsen, urin, jantung melalui ekg, tes mata, pemeriksaan melalui darah, BMI dan lingkar perut, dan cek fisik langsung oleh dokter. Hampir 3 jam lah disana. Ada rasa takut juga sih ga lulus tahap ini, soalnya saat ini banyak kasus kalau mahasiswa kolesterolnya tinggi. Tapi saya percaya aja, kalau udah rezeki gak kemana. 

Pengumuman final cukup lama, hal ini membuat kami sesama kandidat mulai bertanya satu dengan yang lain apakah ada yang sudah mendapatkan email. Ternyata semuanya belum mendapat email. Kira-kira 2 minggu, ada email masuk yang menginformasikan bahwa saya lulus program ini. Wah luar biasa senang. Saya ditempatkan di Duri, berbeda dari KP kemarin yang ditempatkan di Minas.

Saya bersyukur kepada Tuhan untuk semuanya, itu bukanlah karena kekuatan saya melainkan berkat karunia semata. Semoga saya bisa berkontribusi besar dan belajar banyak selama 3 bulan magang nanti. Buat teman-teman yang mau nanya-nanya soal Chevron UPP Internship, komen aja dibawa.
Semangat!

Saya menuliskan pengalaman saya selama UPP di artikel ini silahkan di klik



Monday, 27 April 2015

ORGANIZATION EXPERIENCE

For fresh graduate,academic knowledge and  soft skill ability is equally important. Soft skill can be interpreted as interpersonal skill or people skill, such as, communication skill, leadership, time management, negotiation, etc. It can not be learned in class or by watching tutorial in youtube. We can study soft skill by practicing it. We can do that by joining community or organization.

I have joined to some organizations since the second year of my study, the organization which give the biggest impact to me is PMKT (christian engineering fellowship). There, i study many things, and my life has changed.

I joined KPPA (Research, Development, and alumnus department) of PMKT UGM in september 2014. First, regeneration team (Timreg) of PMKT offered me to join KPPA, i dont want to join at all, i rejected it, because there are so many responsibilities to take if i join to KPPA. I can say that KPPA is the highest department in PMKT which is equal to General Coordinator of PMKT. But the next week, they still offer me and give me time to think. I am in dilema that time, one side, i want to focus to study, because i have a plan to publish paper in electrical international journar IEEE. But the other side, it is not awesome to publish paper when you have so much free time, all people can do that. And my other concern is that i am a christian, and as a christian, i dont want to live just for my self, that is selfish, and i am moved by a sermon that i hear in a church someday that tell "It is a must for a christian to service others". So finally i join the KPPA.

And what i fear happen. 40% of my time is spent in PMKT. Meeting everytime, there are so many responsibilities, and also mental pressure.
There are 3-8 meetings a week, and the worst thing is sometime we make meeting after 10 pm,  or at 5 am, because the member shcedules are different each other, so we have to find time which all people can join.  Honestly, i ever went down, i collapse, i am desperate,i confess that i am lack of disciplne of time management, proscrastination is my best friend, and it make the condition getting worse.

But that is the turning point in my life, i am desperate, and i fall down deeply, i know my weakness. And after that, i am struggling to find solution, i make commitment to my self to change, i read a lot phsycological, self heal, motivational book,  I have read more than 15 books until now, i am trying hard to find best seller book for discipline. And the result is, i have changed.
My paradigm has shifted, the way i think is totally changed, i am in progrees of not to do proscrastination, i am not afraid anymore to meetings, i am not afraid anymore to talk to new people.

Contribution i can give to my department is idea and problem soving, i like to think something new, something conceptual, i build website for our organization when i was at communication department, sometime i give solution when we are stuck at out meetings. I am not smart, but i like to think.

I think to achive something bigger, we have to risk something, it is an option for us to choose whether we join community or ogranization in out college time, but i promise you, you will get many things useful if you dare to join.

Friday, 17 April 2015

MENGAPA SAYA MENULIS

Sumber gambar : http://goinswriter.com/

Penting rasanya untuk menjelaskan secara detail alasan saya menulis, karena ini bisa menjadi pengingat bagi saya ketika nanti saya mulai bosan, jenuh atau lupa akan semangat saya di awal. Saya benar-benar ingin menulis, bukan hanya sekedar ketika ada waktu luang, tapi dengan menggunakan waktu dengan baik, sehingga saya bisa menyelipkan 30-60 menit waktu produktif setiap hari untuk menulis.

Saat ini, tujuan saya untuk menulis masih tergolong egois yaitu untuk keperluan saya sendiri, tidak seperti beberapa orang diluar sana yang sudah menemukan visi menulis yang mulia yaitu untuk membangun sebuah kebudayaan melaui pengaruh tulisan, untuk mengubah dunia, atau sebagai langkah nyata untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Mungkin nanti visi menulis saya akan mengarah kesana, tapi untuk saat ini tujuan saya menulis adalah sebagai sarana bagi saya untuk mengulangi materi perkuliahan yang saya dapatkan di kampus, dan mengeksplorasi lagi pengetahuan itu dari sudut pandang industri dan praktisi, kemudian menuangkannya ke dalam sebuah tulisan yang ringan namun berkualitas. Hal ini berguna bagi saya sebagai seorang sarjana teknik elektro dari salah satu universitas di Indonesia, agar saya tetap mengingat materi perkuliahan saya.

Alasan saya lainnya adalah saya ingin mengembangkan potensi diri saya dan ingin meningkatkan kemampuan berpikir saya, karena dengan menulis kita akan banyak berpikir dan berusaha untuk menjadi kreatif. Ada pendapat yang mengatakan bahwa menulis dan membaca akan berpengaruh positif terhadap kemampuan otak manusia, dan saya percaya itu. 

Menulis itu memerlukan waktu yang panjang, lantas bagaimana dengan urusan kita yang lain?. Saya menulis karena saya tidak ingin membuang waktu saya untuk hal-hal yang sejatinya tidak berdampak positif bagi saya. Apakah anda benar-benar menggunakan waktu anda untuk kegiatan positif? atau sebagian kecil (2.54 jam per hari rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktunya menggunakan media sosial-[1]) waktu anda digunakan untuk hanya sekedar buka facebook, path, instagram, youtube, line, twitter, pinterest, apa lagi?. Saya mempercayai sebuah hipotesa bahwa semakin sering seseorang menggunakan media sosial, maka akan semakin besar kemungkinan orang tersebut menjadi anti sosial. Walaupun kita tidak menyadari hal itu terjadi pada generasi kita saat ini. Ayo guys, mari kita bangun negeri ini, dan itu tidak akan pernah terjadi kalau kita tidak berubah.

Menulis itu menjadi kebahagian sendiri buat saya. Saya orang yang tergolong introvert bisa dikatakan lebih suka untuk menghabiskan waktu sendiri, menulis dan membaca lah hal yang bisa saya gunakan untuk mencharge diri ini.

Yang terakhir, saya menulis karena saya ingin belajar bahasa Inggris, saya ingin menulis artikel-artikel dengan menggunakan bahasa Inggris, tapi pastinya artikel yang berbahasa Indonesia akan lebih banyak di blog ini. Ya buat nambah-nambah vocabulary yang bisa dibilang masih banyak bolongnya lah, dan memperbaiki grammar yang bisa dibilang asal jadi. 

Inilah alasan saya menulis, semoga dengan motivasi ini jugalah saya mampu bertahan untuk menulis hingga 1 tahun kedepan atau hingga saya mati. Semoga motivasi ini bisa semakin menjadi lebih baik, dimana saya menulis bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk orang lain di luar sana yang membutuhkan saya melalui tulisan saya. Mari kembangkan potensi diri kita bersama.

If i waited for perfection, then i would never write a word. ~Margaret A

Salam,
Beny Septian Pardede

Sumber :
[1] : http://wearesocial.sg/


Thursday, 19 March 2015

PERSISTENT AND CONSISTENT

The biggest barrier for people to achieve something is that they are not persistent
After reading many motivational books, i found that persistent is a key of success to reach something. At the beginning, with big enthusiasm, we are committed to change something. We want to lose weight, we want to sleep before 11 pm, we want to reduce using facebook, we want to start reading etc. First, people usually prepare themselves so well, read all information they need, googling "how to" in internet, write promise in their diary book, or for some people, they tell their resolution to their family, that is good.

This is how it works. In the first day, oh my God, the feeling is so awesome, we finish this day by doing our plan very smoothly, we are ready to meet next day. There is no problem in the second day, everything is fine. On day 3, we try to calm our self, no pain no gain. On the fourth day, where the hell the spirit has gone?, it is so hard to do, we gradually forget the motivation why we do that, but we still try to run our plan. In the fifth day, there are so many people who stop doing what they did in the first, their enthusiasm has gone, they find excuses to stop doing that, or they find something new to do. Finally they fail to change, again. I experienced this, and i know that, i am not alone.

I have ever hear that "If we do it something repeatedly in 30 days, then it will be habit" It takes 4 weeks, but mostly, we fail in the first or second week. Look the illustration below, the man in the bottom, gives up at the critical point, where he is so near with his goal. Otherwise, the other man, is very enthusiastic to dig , because he just start it. Can the man in the top be success to find his diamond? The answer is, whether he is persistent and consistent or not.
Image source : workthedream.files.wordpress.com


YOU READ THIS LOUDLY!!


Have you ever hear this quote "Excellence is not an act, but, a habit". 

One day, i browsed in the internet "How to be self confidence", there are so many results there, i read some of it, some are rubbish in my opinion, and there was a web suggested me to read some books, he listed the books. Then i am so happy to 

Monday, 9 February 2015

EKSPOSISI MUSA (4) : MUSA MELAKSANAKAN TUGASNYA

Sumber gambar : http://www.artlevin.com


40 tahun sudah Musa menjalani kesunyiannya di padang gurun tandus, hidup di dalam kesederhanaan, mungkin tujuan hidupnya saat itu hanyalah dapat melihat anak-anaknya bertumbuh dan menjadi dewasa, dan menghabiskan masa tuanya bersama dengan istrinya tercinta. Namun tidak demikan dengan rencana Allah.

Ia tidak dapat membayangkan Allah sedang  mengangkat sebuah alat yang ditolah seperti dirinya, dan menemukan kegunaan di dalamnya. Baginya, gagasan itu sangat bodoh dan sangat menggelikan. Dan kemudian di satu hari yang normal dan biasa, hari di padang gurun, ia berhenti untuk melihat suatu semak yang kusus, dan semuanya tidak akan pernah normal dan biasa lagi bagi dirinya. Tidak ada petunjuk, tidak ada firasat, tidak ada tanda khusus yang memberitahunya tentang kenyataan bahwa Allah sendiri yang akan memecahkan kesunyian hari itu dan hidupnya akan berubah untuk selamanya.


Mungkin kita merasa hidup kita biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial dalam diri kita, kita adalah orang yang terbuang, yang gagal, yang jatuh sangat dalam, dan tidak mungkin lagi ada uluran tangan dari Allah. Ketika kita berpikir seperti itu, ingat lagi lah kisah Musa, dimana seluruh bagian hidupnya berada di bawah kendali Allah. Allah tidak membuangnya, namun mempersiapkannya, dan kemudian Allah memakainya. Kita dilahirkan untuk sebuah tujuan, masalahnya kita tidak mengetahui kapan waktunya. Dan ketika kita gagal atau jatuh dalam dosa, akan ada sebuah uluran tangan yang kuat yang siap menarik kita. Yang terpenting adalah kita percaya, bersabar, dan berdoa agar kita dimampukan untuk dapat melaksanakan tugas yang telah Ia persiapkan sejak lama untuk kita lakukan. Dan jangan terkejut kalau hari yang anda tunggu itu datang secara tiba-tiba. Sama seperti Allah yang memanggil Musa secara tiba-tiba.



ALLAH MENGUTUS MUSA
Ketika Musa menggembalakan kambing domba mertuanya, di gunung Allah, Allah menampakkan diri-Nya dalam nyala api yang keluar dari semak duri. 
Tuhan berfirman :
Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. ....... Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir. Keluaran 3 : 7-10

EKSPOSISI MUSA (3) : 40 TAHUN DITEMPA DI PADANG GURUN



Segala kemegahan yang didapatkan Musa, kini telah sirna, sebuah impian yang mungkin pernah dibayangkan Musa untuk membebaskan saudara-saudara sebangsanya dari tanah Mesir terkikis habis. Istana megah kini diganti dengan rumah yang sederhana, di Midian, sebuah daerah dimana dia akan menghabiskan waktu selama 40 tahun.

Apakah Allah membuang Musa? Tidak Allah tetap menyertainya, Allah sedang mempersiapkannya dari seorang pemimpin yang mengandalkan dirinya menjadi seorang pemimpin yang mengandalkan Allah. Pada masa-masa inilah Musa dididik dan ditempah menjadi seorang pemimpin yang rendah hati.

Belajar untuk Berefleksi dan Taat
Ketika kondisi kita biasa-biasa saja, seringkali kita mengasihi Allah dengan cara “biasa-biasa” saja. Saya ingat ketika saya berada di semester 4-5, saat itu bisa dikatakan saya cukup egois, hidup dengan tidak taat, meskipun setiap pagi saya tetap membaca alkitab dan memberikan waktu teduh. Masa-masa itu cukup banyak waktu yang saya habiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna, hanya untuk memuaskan kedagingan saya, contohnya : menggunakan media sosial berjam-jam, duduk di depan computer streaming youtube untuk hanya sekadar melihat video-video lucu, dan mengerjakan banyak sekali tugas saat jam-jam terakhir (deadliner), yang pastinya tidak dapat memberikan hasil terbaik. Hal tersebut sungguh sangat tidak kudus. Disaat itu saya merasakan Tuhan berbicara melalui hati kecil saya, mengatakan bahwa hal itu tidak benar beny, tetapi saya tetap mengeraskan hati saya dan pura-pura tidak mendengar, dan hal itu terjadi hampir 1.5 tahun.

Suatu hari, sesuatu terjadi berada di luar rencana saya, kejadian yang luar biasa memukul saya. Saya sungguh sedih dan kecewa, hal tersebut sungguh membuat saya jatuh. Namun dimomen itu pula lah saya bisa benar-benar sadar dan bisa  menyerahkan keegoisan saya kepada Allah, dan berefleksi terhadap apa yang selama ini saya telah lakukan. Di situ pula lah saya mau untuk diperbaiki dan mau mencoba untuk mendengarkan Allah dan taat lagi.

Jika kegagalan Anda biasa-biasa saja maka Anda juga hanya akan mendapatkan pelajaran yang biasa-biasa saja. Tetapi jika dasar kejatuhan itu begitu dalam, dan Anda jatuh setinggi empat puluh lantai sampai ke dasar yang paling bawah, saat itulah Anda mulai belajar. Sebenarnya bukan kejatuhan itu sendiri yang menyakitkan, tetapi perhentian yang tiba-tiba di dasar paling bawah tersebut. ~Dikutip dari Buku Musa

Musa mengalami kejatuhan dari lantai keempatpuluh seperti itu. Dari keadaan baik-baik saja menjadi seorang pelarian di tanah Median, tapi justru disitu Allah mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin bagi sebuah bangsa yang besar keluar dari perbudakan di Mesir.


Belajar Untuk Menunggu Waktu Allah

Charles S mengatakan : 
Penempatan waktu adalah sama pentingnya dengan tindakan. Saya pikir di sinilah hikmat mengambil bagian. Pengetahuan memberitahu saya apa yang harus dilakukan; hikmat memberitahu saya kapan melakukannya dan bagaimana melaksanakannya. Semakin lama saya hidup, semakin saya mempercayai kata-kata yang ditulis seorang bijak, "Satu pukulan yang tepat pada waktunya sama berharganya dengan seribu pukulan dengan semangat yang terlalu dini". Allah tidak terbatas dalam kemampuan-Nya membuat sesuatu berhasil, tetapi Ia akan melakukannya menurut waktu-Nya dan bukan sebelumnya.

Kita semua pernah mengalami frustasi yang begitu pekat, merasa seakan-akan surga sedang bergerak dengan gigi satu saat kita butuh waktu yang dipercepat. Di saat-saat yang lebih gelap dalam kehidupan kita, kita mungkin merasa seperti sedang berkata kepada Tuhah, "Hei, ini serius. Tidakkah Engkau bisa menaikkannya lagi, satu atau dua tingkat pada daaftar prioritas-Mu? Tentu saja, masalahnya bukanlah Allah yang terlalu lambat, kitalah yang terlalu cepat. Terlalu cepat untuk kebaikan atau kesombongan kita sendiri.

Musa terlalu kuat. Terlalu terpelajar. Terlalu berbudaya. Terlalu bertalenta. Terlalu superior. Ia sedang meronta-ronta dalam pimpinan Tuhan dan harus belajar bahwa menunggu, menahan dirinya bukanlah suatu tanda kelemahan, mungkin sebaliknya, hal itu merupakan tanda kekuatan.

Menyembunyikan Kesalahan:
ITU HANYA MENUNDA TERBONGKARNYA SAJA

Musa menyembunyikan mayat dari orang Mesir yang dibunuhnya kedalam pasir, tetapi esoknya hal tersebut sudah tersebar luar di Mesir. Keluaran 2:12. Menyembunyikan kesalahan, tidak akan dapat menghapus kesalahan tersebut, seperti yang Musa lakukan. Namun berdasarkan refleksi yang mungkin dia lakukan selama 40 tahun di Midian, dia pasti tidak akan melakukannya lagi. Ia tidak akan menjadi seorang pengecut yang bersembunyi dari kesalahannya sendiri.

Musa seorang tokoh besar di dalam perjanjian lama, begitu juga dengan Adam pernah mengalami hal tersebut, apalagi kita, kita mungkin sering melakukannya, menyembunyikan kesalahan atau sisi gelap kita dan hanya menunjukkan sisi kesempurnaan kita, hal tersebut semata-mata adalah karena kita tidak ingin dianggap rendah oleh orang lain, kita tidak ingin kita kehilangan kharisma kita di depan orang, di depan rekan sepelayanan kita.

Banyak sekali sebenarnya dampak dari ketakutan kita terhadap kelemahan kita, saya baru membaca buku yang cukup baik dan terkenal, yaitu The Gift of Imperfection, dalam buku tersebut dikatakan bahwa manusia menganggap kegagalan atau ketidaksempurnaan adalah suatu yang sangat ditakuti oleh manusia, padahal tidak, ketidaksempurnaan adalah pemberian dari Tuhan agar manusia dengan manusia lainnya bisa saling bersama membangun, berbagi dan menguatkan.

Ketika kita melakukan dosa atau kesalahan, janganlah bersembunyi, karena dengan begitu Anda tidak menghormati Allah, apakah Anda pikir Allah tidak mengetahui semua itu? Akuilah kesalahan, dan mintalah teman atau kakak pembimbing untuk membantu dan mendoakan Anda terhadap masalah tersebut.

Musa menghabiskan waktu selama EMPAT PULUH TAHUN, hingga dipakai Allah untuk membebaskan bangsa Israel, bukan waktu yang lama. Dia berusia 80 tahun untuk melaksanakannya pelayanannya. Tidak ada kata terlalu tua untuk bekerja di ladang Allah, mari berdoa dan mempersiapkan diri untuk melakukan bagian kita masing-masing.

Lanjutkan ke bagian selanjutnya :
Eksposisi Musa (4) : Musa melakukan tugasnya

Saturday, 7 February 2015

EKSPOSISI MUSA (2) : MUSA DIBESARKAN DI MESIR


Sekarang Musa telah dibawa ke dalam istana yang megah, istana kerajaan, hidupnya berubah drastis, kalau diilustrasikan adalah seperti berpindah rumah dari gubuk reot ke istana presiden yang memiliki pelayanan yang lengkap dan tentunya tidak lagi perlu untuk bersembunyi. Di istana tersebut kemungkinan Musa mendapatkan pengajaran-pengajaran dari bangsa Mesir yang mungkin diajari langsung oleh guru-guru besar terkemuka oleh bangsa Mesir. Menjadi anak angkat putri Firaun, Musa juga pastinya mendapat hormat ditengah-tengah bangsa Mesir.


WAKTU DAN CARA YANG TIDAK TEPAT

Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir. Keluaran 2:11-12
Walaupun Musa dibesarkan di Mesir, dia masih memiliki jati diri seorang Ibrani, dia masih mengingat bangsanya, mungkin itulah yang menyebabkan Musa ketika berumur 40 tahun ingin keluar dari istana megahnya dan melihat saudara-saudaranya yang sedang dikenai kerja paksa. Ketika dia keluar, dia menemui seorang Mesir memukul seorang Ibrani, dan kemudian Musa menolong seorang Ibrani tersebut dengan membunuhnya. Menolong sesamanya adalah tindakan yang benar, akan tetapi apakah membunuh itu benar?

Swindoll dalam bukunya menjelaskan kisah ini dengan sungguh baik:

  • Tanpa menyadarinya, Musa memasuki posisi yang rawan, saat berbahaya dalam hidupnya. Ketika saya diyakinkan bahwa Musa tahu dia yang akan mebebaskan bangsa Israel, saya juga percaya ia begitu gugup akan hal ini. Kecemasan. Ketidaksabaran. Dan dalam menyatakan pikiran, ia meluncurkan serangan yang gegabah yang menghasilkan bencana. Berhasrat untuk melakukan kehendak Allah, sangat ingin melakukan perkara-perkara besar bagi Allah, ia memaksa keadaan, yang memimpin kepada kemalangan pribadi
Namun selama itu Allah menunggu Anda untuk mencari Nasihat-Nya. Jika Anda bertindak dengan tidak peka terhadap waktu-Nya, Anda bisa kehilangan senyum kemurahan ilahi. Ia tidak akan memberkati apa yang belum Ia tahbiskan. Anda dapat saja benar-benar merasa bahwa Allah mempunyai sesuatu bagi Anda untuk mengerjakan sesuatu di lahan tertentu. Tetapi jika Anda tidak waspada, jika Anda tidak merendahkan diri Anda setiap hari dihadapan-Nya, mencari wajah-Nya, peka terhadap waktu-Nya, bekerja di bawah pimpinan Roh, Anda dapat mendorong dan menerobos dan memaksa jalan anda sebelum waktunya ke tempat di mana Allah menginginkan Anda berada, namun Anda tidak akan pernah sampai pada waktu-Nya

Musa menoleh ke sini, dan ia menoleh ke sana. Bukankah menarik? Ia tidak melihat ke atas, bukan? Ia melihat pada kedua arah secara horizontal, namun ia mengabaikan arah vertikal sama sekali. Dan apa yang ia lakukan akibat amarah bengisnya? Alkitab mengatakan "disembunyikannya mayatnya dalam pasir".

Tetap saja, ketika Anda bekerja dalam kedagingan, Anda butuh sesuatu untuk menutupinya. Anda harus mengubur motif Anda. Anda harus menyembunyikan suatu hubungan yang sudah Anda buat untuk memanipulasi rencana tersebut. Anda harus menyembunyikan kebohongan. Anda harus menutupi mayat akbibat perbuatan Anda. Ini hanya masalah waktu sebelum kebenaran menangkap Anda. 

Dengan mengabaikan untuk meminta nasihat Allah, mengabaikan untuk mencari waktu Allah, maka Anda bertindak menangani banyak perkara. Dan pada akhirnya, Anda mendapati banyak kotoran di tangan Anda, Anda tertegun dengan sebuah mayat, dengan sebuah sekop di tangan Anda dan sebuah kuburan dangkal di kaki Anda.

Mari kita koreksi bersama lagi bagaimana kita melakukan pelayanan kita, di persekutuan kampus, perksekutuan kerja atau di gereja, kita mungkin benar-benar sangat bersemangat, sampai-sampai di dalam mimpi pun hal itu terus tergambar, atau mungkin kita seorang pemimpin yang begitu luar biasa didalam persekutuan tersebut, pagi, siang dan malam berusaha memikirkan dan fokus terhadap pelayanan. Hal itu tentu sangat luar biasa, saya sungguh ingin seperti itu. Tapi tetaplah berhati-hati, selidiki lagi apakah kita melakukannya hanya karena panggilan kedagingan, hanya sebagai pelampiasan, dan tidak dengan kerendahan hati yang penuh. Mudah-mudahan tidak.



Musa berpikir bahwa ia melakukan hal yang benar, menyelamatkan saudara sebangsanya. Esoknya, ia keluar lagi dari istana megahnya, kemudian ia menemukan lagi dua orang yang sedang berkelahi, namun kali ini yang berkelahi adalah 2 orang ibrani. Berniat untuk mendamaikan mereka, Musa malahan mendapat jawaban yang begitu menyentak dirinya. Orang ibrani tersebut berkata :

“Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang mesir itu?”

Jika anda berada di posisi Musa, apa yang anda rasakan ketika mendapat jawaban seperti itu. Padahal saat itu mungkin Musa menganggap bahwa dirinya adalah seorang pahlawan yang kemarin telah membela seorang Ibrani. Musa yang adalah seorang yang terpandang dan berpendidikan, anak angkat putri Firaun raja Mesir, mendapat jawaban yang sungguh merendahkannya sekaligus menghancurkannya.

Setelah mendengar perkataan yang cukup mengejutkan tadi, larilah Musa dari Mesir, dari hadapan Firaun, karena Musa berpikir bahwa kasus pembunuhan terhadap orang Mesir yang dilakukannya mungkin telah ketahuan kepada Firaun. Ya tepat seperti yang Musa pikirkan, Firaun memang sudah mengetahui kasus tersebut. Firaun berikhtiar untuk membunuh Musa (Keluaran 2:15).

Musa melarikan diri, meninggalkan segala kehormatan, kelayakan, impiannya, meninggalkan istananya yang super megah. Pergi berlari dan akhirnya tiba di tepi sebuah sumur di Midian. Di pinggir mata air sumur yang pasti menyegarkan dirinya setelah lari begitu jauh, sebuah harapan baru untuk hidup, di bawah asuhan Tuhan.

Swindoll menyimpulkan pengalaman itu lebih dalam lagi :
Pengalaman-pengalaman seperti itu kita alamai semua. Kita tergesa-gesa dalam berpikir untuk menyelesaikan semuanya; kita melayangkan sedikit pukulan ke dalam kesia-siaan; kita digoncangkan dengan kekecewaan, dan kita terhuyung-huyung; kita takut pada nafas pertama dari penolakan manusia; kita melarikan diri dari pemandangan, menyembunyikan diri kita dalam penyelsalan. Lalu kita bersembunyi di dalam rahasia Allah dari keangkuhan manusia. Dan di sanalah visi kita menjadi jelas; lumpur-lumpur meluruh dari alur hidup kita, kehidupan diri kita sirna; roh kita meminum sungai Allah yang penuh dengan air; iman kita mulai meraih tangan-Nya, untuk menjadi saluran manifestasi dari kuasa-Nya; dan hingga akhirnya kita muncul menjadi tangan-Nya untuk memimpin sebuah eksodus. 

Lanjutkan membaca ke bagian selanjutnya :
Eksposisi Musa (3) : 40 tahun ditempa di padang gurun